Iaadalah Syekh Abdurrauf as-Singkili. Ini terlihat pula bahwa lambang almamater universitas tersebut adalah foto duplikat dari ulama yang di pugar dan diakui sebagai kuburan Abdurrauf. Kuburan ini diinformasikan sebagai makam Abdurrauf oleh Syekh Tarekat Syattariyah yang datang dari Pariaman Sumatera Barat bersama satu rombongan besar awal
Jikakita ambil sebagai pertimbangan, Gurunya, Syeikh Abdurrauf as-Singkili hidup antara tahun 1615-1693 dan kembali ke Aceh setelah menyempurnakan pendidikannnya di Arab pada tahun 1661 , maka besar kemungkinan bahwa Baba Daud hidup pada pertengahan kedua abad ke-17 dan permulaan abad ke-18.
OlehSyekh Ahmad keduanya diberi wewenang untuk menyebarkan agama Islam di daerahnya masing-masing. Selama sepuluh tahun, Syeikh Burhanuddin banyak belajar ilmu-ilmu keislaman maupun tarekat dari gurunya, Syekh Abdur Rauf as-Singkili. Ia mempelajari ilmu-ilmu Bahasa Arab, tafsir, hadis, fikih, tauhid, akhlak, tasawuf, aqidah, syari'ah dan
TsunamiAceh, Begini Sejarahnya. Tsunami merupakan kata yang sangat melekat dalam ingatan masyarakat Aceh saat ini. Musibah tsunami yang menguncang Aceh, 26 Desember 2004 lalu, telah menelan korban jiwa hampir 300 ribu warga di Aceh. Menurut catatan sejarah di Aceh, Aceh pernah dilanda gempa dan tsunami sebanyak empat kali: , 1907
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Makam Ulama yang di ziarahi Kapolda Aceh adalah makam Syekh Abdurrauf As-Singkili yang terletak di Desa Kilangan, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil. Laporan Subur Dani Banda Aceh BANDA ACEH - Di sela-sela kunjungan ke Aceh Singkil, Kamis 20/1/2022, Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Ahmad Haydar SH MM, menyempatkan waktu untuk ber ziarah ke makam Ulama kharismatik di daerah itu termasuk di Provinsi Aceh. Makam Ulama yang di ziarahi Kapolda Aceh adalah makam Syekh Abdurrauf As-Singkili yang terletak di Desa Kilangan, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil. "Saat ber ziarah ke makam ulama, Kapolda Aceh turut didampingi Forkopimda Aceh Singkil dan tokoh agama setempat," kata Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy SH SIK MSi. Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Ahmad Haydar SH MM, saat ber ziarah didampingi Irwasda Polda Aceh, Kombes Pol Kalingga Rendra Raharja SE SH, dan sejumlah PJU Polda Aceh lainnya. "Kapolda Aceh di setiap kunjungan kerjanya kerap kali mengunjungi, berziarah dan berdoa ke makam-makam ulama di Aceh, salah satunya seperti kunjungan ke Aceh Singkil yang menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Syekh Abdurrauf As-Singkili, " sebut Kabid Humas mengakhiri keterangannya.* Baca juga Buka Seminar Syekh Abdurrauf As Singkily, Ini Harapan Bupati Aceh Singkil
Syekh Abdurrauf Singkil - Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala.Masa muda dan pendidikan Abdurrauf Singkil lahir di Singkil, Aceh pada 1024 H/1615 M, beliau memiliki nama lengkap Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam. Tercatat sekitar 19 guru pernah mengajarinya berbagai disiplin ilmu Islam, selain 27 ulama terkemuka lainnya. Tempat belajarnya tersebar di sejumlah kota yang berada di sepanjang rute haji, mulai dari Dhuha Doha di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, Mekah, dan Madinah. Studi keislamannya dimulai di Doha, Qatar, dengan berguru pada seorang ulama besar, Abd Al-Qadir al karya Sepanjang hidupnya, tercatat Syiah Kuala sudah menggarap sekitar 21 karya tulis yang terdiri dari satu kitab tafsir, dua kitab hadis, tiga kitab fikih, dan selebihnya kitab tasawuf. Bahkan Tarjuman al-Mustafid Terjemah Pemberi Faedah adalah kitab tafsir Syiah Kuala yang pertama dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu. Namun di antara sekian banyak karyanya, terdapat salah satu yang dianggap penting bagi kemajuan Islam di nusantara, yaitu kitab tafsir berjudul Tarjuman al-Mustafid. Kitab ini ditulis ketika Syiah Kuala masih berada di Aceh. Kitab ini beredar di kawasan Melayu-Indonesia, bahkan luar negeri. Diyakini banyak kalangan, tafsir ini telah banyak memberikan petunjuk sejarah keilmuan Islam di Melayu. Selain itu, kitab tersebut berhasil memberikan sumbangan berharga bagi telaah tafsir Alquran dan memajukan pemahaman lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam. Karya tulis Syekh Abdurrauf kini masih bisa ditemukan di Pustaka Islam, Seulimum, Aceh Besar. Hal ini merujuk pada buku yang dikarang Teuku Ibrahim Alfian berjudul Perjuangan Ulama Aceh di Tengah Konflik yang berdasarkan hasil penelitian Al Yasa’ Abubakar. Disebutkan dalam tulisan itu, karya tulis As-Singkili lebih kurang mencapai 36 buah kitab. Bahkan salah satu kitab yang dikarangnya diabadikan oleh Profesor A. Meusingge dalam buku yang wajib dibaca mahasiswa Koninklijke Academic Delft, Leiden. Di dalam buku tersebut diulas isi kitab As-Singkili yang berjudul Mi'rat at-Tullab fi Tahsil Ahkam asy-Syari'yyah li al Malik kerajaan Selain sebagai penulis yang produktif, Syekh Abdurrauf As-Singkili dipercayakan sebagai mufti kerajaan Aceh pada masanya. Pengaruhnya sangat besar dalam mengembangkan Islam di Aceh dan meredam gejolak politik di kerajaan tersebut. Salah satu kebijakan populis pada abad pertengahan adalah restunya terhadap kepemerintahan ratu-ratu di Syattariyah Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, syaikh untuk Tarekat Syattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah salah satu gurunya. Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawi berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta'wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun dan karya Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan dari Pariaman, Sumatera Barat dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Azyumardi Azra menyatakan bahwa banyak karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin. Tarjuman al-Mustafid, merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu. Terjemahan Hadits Arba'in karya Imam Al-Nawawi, ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin. Mawa'iz al-Badî', berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak. Tanbih al-Masyi, merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh. Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud, memuat penjelasan tentang konsep wahdatul wujud. Daqâiq al-Hurf, pengajaran mengenai tasawuf dan teologi. Wafat Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh. Namanya kini dilakabkan menjadi nama Universitas Syiah Kuala atau Unsyiah. Universitas itu berada di Darussalam, Banda makam Syekh Abdurrauf As-Singkili dipercaya memiliki dua makam. Satu berada di Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Satu lagi di Desa Kilangan, Singkil. Makam di Singkil berada di bibir Krueng Singkil. Banyak peziarah mendatangi makam ini, baik dari Aceh maupun dari luar daerah seperti Sumatera Barat. Sementara di Banda Aceh, lokasi makam Syiah Kuala berada di bibir Selat Malaka. Seperti halnya di Singkil, lokasi makam ini juga banyak dikunjungi peziarah. Bahkan makam dijadikan sebagai lokasi wisata religi di Tanah Rencong oleh pemerintah daerah. Sumber
Beranda / Berita / Aceh / Sejarawan Aceh Ungkap Fakta Kebenaran Posisi Makam Syekh Abdurrauf As Singkili Sabtu, 25 Februari 2023 2300 WIB Font Ukuran - + Reporter Sejarawan sekaligus Arkeolog Aceh, Dr Husaini Ibrahim MA. [Foto Net] Banda Aceh - Di Aceh, terdapat dua makam yang masing-masing diyakini sebagai makam Syekh Abdurrauf As Singkili. Satu berada di Aceh Singkil, dan yang satunya lagi di Syiah Kuala, Banda Aceh Singkil, lokasi makam berada di bibir sungai Singkil, sementara di Syiah Kuala Banda Aceh, makam Syekh Abdurrauf berada di bibir pantai Gampong Syiah Kuala. Baik di Singkil, maupun di Banda Aceh lokasi makam ini banyak dikunjungi peziarah. Bahkan lokasi makam salah satu ulama besar Aceh ini dijadikan wisata religi oleh pemerintah daerah hal demikian, Sejarawan sekaligus Arkeolog Aceh, Dr Husaini Ibrahim MA mengatakan bahwa makam Syekh Abdurrauf As Singkili yang benar itu yang berada di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda hal ini, lanjutnya hanya ada satu versi yang benar mengenai makam Syekh Abdurrauf As Singkili. Itu sudah beredar surat dari Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh yang saat itu dijabat oleh Prof Ali Dalam surat itu menyatakan Makam Syekh Abdurrauf yang ada di Aceh Singkil itu bukan Makam beliau. Yang benar adalah yang ada di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. Maka disebutlah Makam syekh Abdurrauf Assingkili atau nama lain Syiah Kuala. "Maqam Syekh Abdurrauf yang menjadi Malikul Qadhi Ahdi Kerajaan Aceh itu berada di Jalan Syiah Kuala sekarang," kata Husaini Ibrahim kepada Reporter Sabtu 25/2/2023.Sejarawan Aceh ini juga menjelaskan mengenai sejarah kronologi makam Syekh Abdurrauf Assingkili yang pernah menjadi Malikul Ahdi Kerajaan Aceh yang dianggap berada di Aceh kata dia masyarakat Padang yang berasal dari bagian museum dan purbakala Muskala pernah pergi ke Aceh untuk berjumpa dengan dinas pendidikan dan kebudayaan Aceh. Mereka meminta untuk mendirikan cungkup bangunan makam di Makam Syiah Kuala yang ada di Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. Saat itu, orang Aceh tidak memberikan izin karena mereka ingin mendirikan bangunan mereka di Makam Syiah Kuala. Mereka mencari cara agar supaya bisa dikatakan bahwasanya Syekh Abdurrauf Assingkil itu keturunan dari mereka. Jadi dibuatlah di Aceh Singkil. Kata masyarakat kampung disana sebelumnnya disana hanya ada makam biasa dan ada bangunannya juga. Setelah setelah kejadian itu orang Padang datang membersihkan Makam yang berada di pinggir sungai tersebut kemudian didirikan bangunan. "Setelah direnovasi barulah orang Padang beramai-ramai datang berziarah kesana hingga saat ini," ujarnya. Husaini juga menceritakan saat dirinya bertanya kepada penjaga makam Syekh Abdurrauf Assingkili yang berada di Singkil. Penjaga mengatakan bahwa yang Makam yang benar berada di Bandq Aceh. Dirinya menjelaskan bahwa nama pemilik makam ini kebetulan sama dengan Syekh Abdurrauf Assingkili. Mereka hidup hampir bersamaan dan berguru dalam satu guru yang sama."Itu versi orang jaga Makam yang betul adalah ketika Syekh Abdurrauf sampai ke Banda Aceh dan menjadi Malikul Qadhi Ahdi Kerajaan Aceh. Itu makannya berada di Jalan Syiah Kuala sekarang. Itu versi dari penjaga makam," Husaini, MA berharap dengan adanya penjelasan ini dapat meluruskan pemahaman ini semua. Makam yang berada di Banda Aceh itu penulisan nama Syekh Abdurrauf Assingkili berada di Batu Nisan. Sedangkan di Aceh Singkil, nama Syekh Abdurrauf Assingkil tertulis hanya di Pintu depan Makam saja bukan di Nisannya. "Ini jelas bahwa Yang Makam yang di Aceh Singkil itu baru dibuat karena di Batu nisan tidak tertulis nama Syekh Abdurrauf Assingkili," pungkasnya. Keyword MAKAM SYEKH ABDURRAUF AS SINGKILI SYIAH KUALA Berita Terkait Dua Versi Makam Ulama Aceh Syiah Kuala, Rektor UTU Ahli Sejarah Wajib LuruskanBPDPKS Kementrian Keuangan RI Kunjungi ARC PUIPT Nilam Universitas Syiah KualaKerjasama dengan Disbudpar Aceh, BEM FISIP USK Ingin Wujudkan Desa Suka Tani Jadi Desa WisataDisbudpar Aceh dan ISAD Aceh Saweu Makam Syiah Kuala Komentar Anda
makam syekh abdurrauf as singkili